1. Memayu Hayuning Desa
"Deso mawa cara, negoro mawa tata
Artinya, setiap tempat punya adatnya sendiri. Untuk membuat Teluk Bakung mempesona, warga harus menjaga kearifan lokalnya. "Surga" di desa bukan berarti harus jadi kota, tapi justru ketika alamnya tetap asri, airnya bening, dan pohon-pohon bakungnya tumbuh subur.
Aksinya: Jaga kebersihan sungai dan tanamlah bunga Bakung sebagai ikon desa agar sesuai dengan namanya.
2. Guyub Rukun dadi Pondasi
"Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah."
Pesona surga tidak akan terlihat kalau warganya sering berselisih. Desa yang indah itu yang suasananya adem, ayem, dan tentrem. Kalau antar tetangga saling tegur sapa dengan tulus, orang luar yang datang pun akan merasa sedang berada di "surga" karena keramahannya.
Aksinya: Hidupkan kembali semangat gotong royong tanpa pamrih.
3. Nandur Becik, Ngunduh Apik
"Sapa nandur, bakal ngunduh."
Siapa yang menanam, dia yang akan memanen. Kalau warga Teluk Bakung rajin menanam kebaikan pada alam (tidak buang sampah sembarangan, merawat hutan, menjaga air), maka alam akan membalasnya dengan hasil bumi yang melimpah dan pemandangan yang memanjakan mata.
Aksinya: Mulai gerakan satu rumah minimal lima tanaman hias atau pohon buah.
4. Narima ing Pandum, Nanging Tetep Sengkuyung
"Golek jeneng dhisik, mengko jenang bakal melu."
Jangan cuma mengejar keuntungan materi (jenang) di awal. Fokuslah membangun nama baik (jeneng) desa Teluk Bakung sebagai desa yang indah, bersih, dan berbudaya. Kalau nama desanya sudah harum dan punya "pesona surga", kesejahteraan ekonomi akan datang dengan sendirinya melalui pariwisata atau produk lokal